Di tanah pesisir barat Kabupaten Mukomuko, ketika angin laut berhembus pelan dan malam turun dengan sunyi yang dalam, masyarakat tua masih menyimpan satu kisah yang tak lekang oleh waktu—kisah yang bukan sekadar cerita, melainkan legenda yang diyakini pernah benar-benar terjadi, Kisah itu dikenal dengan nama:
SANG PATI MATI TASULO
Dahulu, pada masa penjajahan kolonial, ketika rakyat hidup dalam tekanan dan ketakutan, muncullah seorang lelaki sakti yang menjadi tumpuan harapan. Ia dikenal sebagai Sang Pati.
Tak ada yang tahu pasti dari mana asalnya. Sebagian mengatakan ia datang dari hutan-hutan lebat, sebagian lagi percaya ia adalah keturunan penjaga tanah Mukomuko. Namun satu hal yang pasti—kehadirannya membawa keberanian bagi rakyat.
Sang Pati bukan manusia biasa. Ia menguasai ilmu bela diri yang tinggi dan ilmu kebatinan yang dalam. Tubuhnya dipercaya kebal—peluru penjajah tak mampu menembus kulitnya, parang patah sebelum melukainya. Bahkan konon, saat peluru ditembakkan, hanya terdengar denting seperti mengenai batu.
Ia memimpin perlawanan rakyat. Dengan strategi gerilya dan keberanian tanpa takut mati, Sang Pati dan pengikutnya kerap mengguncang pertahanan penjajah. Namanya menyebar dari mulut ke mulut—menjadi simbol perlawanan dan harapan.
Namun legenda besar sering kali berakhir dengan luka yang dalam.
Di balik kesetiaan para pengikutnya, terselip satu hati yang goyah. Seorang penghianat—yang tergoda oleh kekuasaan dan janji penjajah—membocorkan satu-satunya rahasia Sang Pati.
Bahwa ia hanya bisa mati jika tubuhnya disulo menggunakan batang pohon nipah yang diruncingkan.
Mendengar itu, penjajah segera menyusun rencana. Dengan tipu daya, Sang Pati akhirnya tertangkap. Ia diikat, namun tidak pernah menundukkan kepala.
Ia kemudian diarak ke sebuah tanah lapang. Rakyat dipaksa menyaksikan—sebuah pertunjukan kejam untuk mematahkan semangat perlawanan.
Langit dikisahkan gelap saat itu. Angin berhenti berhembus. Alam seakan tahu sesuatu yang besar akan berakhir.
Di tengah lapangan, batang pohon nipah yang telah diruncingkan telah menunggu, Dengan keji, penjajah menusukkan batang itu ke tubuh Sang Pati.
Versi yang paling sering diceritakan menyebutkan—tusukan itu menembus dari perut hingga ke punggung.
Namun ada pula versi yang lebih menggetarkan—bahwa Sang Pati disulo dari dubur hingga menembus ke kerongkongan.
Namun yang membuat kisah ini semakin melegenda Sang Pati tidak berteriak, Tidak merintih, Tidak memohon Ia hanya menatap jauh ke langit.
Seolah tubuhnya boleh hancur, tetapi jiwanya tak pernah bisa ditaklukkan Dan di sanalah, di tanah lapang itu, Sang Pati menghembuskan napas terakhirnya.
Sejak saat itu, kisahnya hidup dalam ingatan rakyat dengan nama:
“SANG PATI MATI TASULO”
Namun legenda ini belum benar-benar berakhir, hingga hari ini, satu misteri masih menjadi perbincangan masyarakat Mukomuko di mana sebenarnya Sang Pati dimakamkan?
Tak ada yang bisa memastikan.
Sebagian masyarakat meyakini makamnya berada di wilayah Desa Bandar Ratu, Konon, pada malam-malam tertentu, orang yang melintas di sana merasakan hawa yang berbeda—hening, berat, dan seolah diawasi.
Namun sebagian lainnya bersumpah bahwa makam Sang Pati berada di wilayah Kecamatan Selagan Raya.
Di sana, ada cerita tentang tanah yang tidak bisa digali sembarangan, dan suara-suara aneh yang kadang terdengar saat malam semakin larut - Tak ada bukti pasti, Tak ada catatan tertulis.
Hanya cerita… yang terus hidup.
Sebagian orang tua berkata,
“Selama tanah Mukomuko masih berdiri, selama itu pula nama Sang Pati tidak akan hilang.”
Legenda ini bukan hanya tentang kesaktian, tetapi tentang keberanian melawan penindasan, dan tentang satu pelajaran yang selalu diingat:
Bahwa musuh paling berbahaya bukanlah yang datang dari depan, melainkan yang bersembunyi di belakang—dalam bentuk pengkhianatan.
Kisah ini hidup dalam tradisi lisan masyarakat Mukomuko, salah satunya dituturkan oleh Putri Pariwisata Mukomuko 2018, Nanda Kartika, dan kemudian di tulis oleh Ahmad Arifin

Posting Komentar