![]() |
| "ilustrasi transmigrasi di mukomuko" |
Latar Sejarah
Pengiriman transmigran ke Bengkulu sudah dimulai
semenjak masa kolonial Belanda (1930‑an), namun momentum besar tercipta mulai tahun
1967, dengan penetapan Provid Bengkulu sebagai target transmigrasi melalui Keputusan
Presiden No. 2 Tahun 1973
Wilayah yang kini disebut Kabupaten Mukomuko awalnya berada dalam administrasi Kabupaten Bengkulu Utara, dan menjadi lokasi utama transmigrasi pada era tersebut
Transmigrasi Pertama: Era 1970‑an
Pada awal transmigrasi besar, pemerintah mulai menempatkan para keluarga transmigran (mayoritas dari Jawa Tengah dan Jawa Timur) di kawasan Kecamatan V Koto, Teras Terunjam, dan Pondok Suguh. Setiap keluarga memperoleh lahan 2 hektare: 1 ha untuk usaha tani dan 1 ha sebagai pekarangan/perumahan
Komposisi Penduduk Tahun 2000–2006
Saat sensus tahun 2000, daerah yang kini menjadi Mukomuko berpenduduk sekitar 137.994 jiwa. Komposisi etnis menunjukkan transmigran dominan: 37,4 % suku Jawa, 6,3 % Sunda, 5,4 % Minang, sisanya Bali, Bugis, Melayu, Rejang, Serawai, Lembak, dsb.
Pada tahun 2006 setelah pemekaran, jumlah penduduk Mukomuko dilaporkan sebesar 177.131 jiwa (92.120 pria & 85.011 wanita), dengan kepadatan 43,9 jiwa/km², dan struktur etnis yang serupa—transmigran dari Jawa menjadi mayoritas.
Infrastruktur & Pemekaran
Mukomuko secara administratif menjadi kabupaten otonom
berdasarkan UU No. 3 Tahun 2003, terpisah dari Bengkulu Utara sejak awal
2003. Wilayah yang kini terdiri dari 15 kecamatan, dengan jumlah
penduduk diperkirakan 201.700 jiwa pertengahan 2024 berdasarkan Badan
Pusat Statistik.
Beberapa unit transmigrasi seperti di Desa Lubuk Talang (UPT VIII) terus dikembangkan pemerintah daerah untuk menjadi desa definitif, termasuk 200 KK transmigran yang memiliki lahan 600 ha plus cadangan 100 ha untuk pecahan KK
Kondisi Awal &
Tantangan
Transmigran awal sering tinggal di rumah kayu kecil ukuran
5 × 6 m², berbagi sumur, dan menghadapi kondisi sulit dan tertunda bantuan.
Seorang transmigran bernama Sriyono menyebut bahwa rumah sering belum bisa
ditinggali seminggu bahkan jatah hidup juga tidak memadai (beras 10 kg/bulan,
ikan asin, dst.)
Pelayanan kesehatan awal sangat terbatas—200 KK di Desa
Lubuk Talang hanya dilayani mantri tanpa puskesdes, dan akses RS bisa memakan
waktu hingga 3 jam.
Dampak Sosial-Ekonomi
Transmigrasi mempercepat pertumbuhan populasi dan mengubah struktur demografi. Penduduk asli Minangkabau Mukomuko kini menjadi minoritas di wilayahnya sendiri
Mayoritas transmigran bekerja sebagai petani padi, jagung, karet, dan kelapa sawit. Tahun 2002–2006 produksi padi Mukomuko mencapai 39.532 ton (29 % produksi Bengkulu Utara waktu itu), jagung 21.529 ton, ubi kayu 24.608 ton, kedelai dan kacang hijau juga signifikan.
Status Terkini
Pada tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Mukomuko menyatakan bahwa tidak ada lagi pembukaan lahan transmigrasi baru karena keterbatasan area, dan fokus kini pada pengembangan ekonomi warga transmigrasi melalui kebun plasma serta pemekaran wilayah eks-UPT menjadi desa resmi
📋 Ringkasan Data &
Fakta
|
Aspek |
Keterangan |
|
Awal transmigrasi |
1967 (SK Presiden 1973) |
|
Daerah transmigrasi utama |
Kecamatan V Koto, Teras Terunjam, Pondok Suguh |
|
Lahan per keluarga |
2 ha (1 ha usaha tani, 1 ha pekarangan) |
|
Penduduk 2000 |
~137.994 jiwa |
|
Prosentase suku Jawa (2000) |
37,4 % |
|
Populasi 2006 |
~177.131 jiwa |
|
Populasi 2024 estimate |
~201.700 jiwa |
|
Produksi padi (2002) |
~39.532 ton |
|
Masalah awal transmigrasi |
Rumah tak layak, terbatas bantuan, kesehatan & akses Pendidikan |
|
Status 2025 |
Tidak ada lahan baru, fokus pembinaan ekonomi &
administrasi desa |
Penutup
Transmigrasi pertama di Mukomuko adalah cerita penting dalam
perjalanan pembangunan wilayah otonom ini. Dari proses awal yang penuh
tantangan, hingga pertumbuhan sosial-ekonomi, dampak dan warisan program ini
masih terasa kuat hingga sekarang. Penduduk transmigran yang dulu datang
sebagai pendatang kini telah menjadi bagian integral dari identitas Mukomuko.
Jika kamu memerlukan data lebih lanjut—misalnya per desa transmigran, angkatan
per tahun, atau profil tokoh pendiri transmigran—aku siap bantu mengembangkan
lebih lanjut!
Sumber srtikel : (dnovianti.blogspot.com,
Wikipedia, Antara
Bengkulu,Katadata).
