SEJARAH DESA WONOSOBO - PENARIK : Pemindahan Satu Kampung demi Harapan Baru

 


Program Bedol Desa adalah salah satu bentuk transmigrasi yang unik dan monumental dalam sejarah Indonesia. Berbeda dari transmigrasi biasa yang memindahkan individu atau keluarga, Bedol Desa memindahkan seluruh warga beserta perangkat desa, adat, dan sistem sosialnya secara utuh ke wilayah baru. Salah satu desa penerima dalam program ini adalah Desa Wonosobo, yang kini berada di Kecamatan Penarik, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.

Program ini banyak terjadi pada era Orde Baru, terutama ketika pembangunan proyek strategis seperti waduk, kawasan industri, atau pelabuhan mengharuskan pemindahan penduduk dalam skala besar. Dalam konteks Desa Wonosobo, transmigran yang datang merupakan penduduk yang dipindahkan secara kolektif dari daerah asal karena tergusur oleh proyek negara, seperti pembangunan Waduk Kedungombo di Jawa Tengah.

Asal Usul Transmigran ke Wonosobo

Sebagian besar warga Desa Wonosobo yang kini menetap di Kecamatan Penarik berasal dari wilayah Jawa Tengah, khususnya dari daerah Waduk Kedungombo dan sekitarnya. Pemindahan dilakukan oleh pemerintah pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, setelah proyek pembangunan waduk besar itu menyebabkan puluhan desa terendam.

Warga yang terkena dampak dialihkan ke beberapa lokasi transmigrasi di luar Jawa, salah satunya ke Bengkulu—tepatnya ke UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi) di wilayah Penarik. Setelah beberapa tahun, kawasan pemukiman ini berkembang dan diresmikan menjadi Desa Wonosobo.

Perjalanan Awal dan Tantangan Hidup

Setibanya di lokasi, para warga Bedol Desa menghadapi kenyataan yang jauh berbeda dari kampung halaman. Hutan belantara, infrastruktur minim, akses terbatas terhadap air bersih dan fasilitas kesehatan menjadi tantangan utama. Rumah yang dibangun oleh pemerintah adalah rumah kayu tipe transmigrasi, dengan lahan seluas 2 hektare per kepala keluarga.

Kondisi sosial pun berubah drastis. Di kampung asal, mereka sudah memiliki sistem sosial yang mapan, lahan produktif, dan hubungan kekerabatan yang erat. Di tanah baru, mereka harus kembali membangun dari nol.

Namun karena mereka datang secara kolektif, semangat gotong royong dan ikatan komunitas menjadi kekuatan utama. Mereka membentuk kembali struktur pemerintahan desa, lembaga adat, dan bahkan mendirikan masjid dan sekolah sendiri dari hasil swadaya.

Perkembangan Ekonomi dan Sosial

Dengan kerja keras, warga Desa Wonosobo mulai menggarap lahan pertanian. Komoditas utama yang dibudidayakan adalah kelapa sawit, padi ladang, dan karet. Dalam waktu dua dekade, Desa Wonosobo tumbuh menjadi salah satu desa produktif di Kecamatan Penarik.

Anak-anak transmigran kini telah menjadi bagian dari lapisan masyarakat yang lebih beragam. Beberapa dari mereka telah menjadi guru, pegawai negeri, pedagang, bahkan pengusaha. Masyarakat Desa Wonosobo juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan budaya.

Kini, Desa Wonosobo memiliki akses jalan utama, jaringan listrik, sekolah dasar, balai desa, dan fasilitas kesehatan dasar. Pemerintah daerah Mukomuko pun menjadikan desa ini sebagai contoh keberhasilan program transmigrasi model Bedol Desa.

Harmoni dengan Masyarakat Lokal

Meskipun awalnya Desa Wonosobo adalah desa transmigran, namun hubungan dengan masyarakat lokal, baik suku Melayu Mukomuko maupun etnis lainnya, berjalan harmonis. Asimilasi budaya dan kerjasama antarkomunitas menjadikan Desa Wonosobo sebagai salah satu simbol integrasi sosial yang berhasil.

Fakta Singkat Desa Wonosobo – Bedol Desa

Aspek

Keterangan

Tahun kedatangan

±1987–1991

Program

Bedol Desa (dampak proyek Waduk Kedungombo)

Asal transmigran

Jawa Tengah

Lahan

±2 ha/KK (1 ha pekarangan, 1 ha usaha tani)

Komoditas utama

Sawit, karet, padi

Fasilitas awal

Rumah kayu, sekolah darurat, masjid swadaya

Status kini

Desa definitif, infrastruktur berkembang

Hubungan sosial

Baik dengan masyarakat lokal

Desa Wonosobo di Kecamatan Penarik bukan hanya sebuah permukiman transmigrasi, ia adalah simbol keteguhan dan keberanian komunitas yang kehilangan segalanya namun tidak menyerah. Mereka tidak sekadar pindah tempat, tapi membangun kembali hidup dari awal dengan semangat kolektif dan harapan yang besar.

Kini, Desa Wonosobo menjadi saksi sejarah bahwa pemindahan satu desa bukan akhir segalanya, melainkan awal dari sebuah kisah baru yang bisa jauh lebih cerah dan bermakna.

Ditulis oleh AAS/REDAKSI

Sumber : wikipedia, dan Berbagai Sumber

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama