Latar Lokasi
Di sebuah daerah pedalaman Kabupaten Mukomuko, tepatnya di Desa
Talang Arah, Kecamatan Malin Deman, berdiri dua bongkahan batu besar
yang terletak tidak jauh dari pemukiman masyarakat. Kedua batu itu tidak biasa.
Mereka terlihat seolah pernah menjadi satu, namun kini terbelah—terpisah oleh
waktu, oleh kejadian yang tak terjelaskan, dan oleh kisah yang membekas dalam
ingatan masyarakat turun-temurun.
Batu itu dikenal sebagai Batu Takup atau oleh
sebagian disebut Batu Tangkup. Nama ini berasal dari kata
"menangkup" atau "memeluk erat", karena bentuk batu
tersebut seperti dua tangan besar yang tengah memeluk atau menjepit sesuatu di
dalamnya.
Kisah Tragis Seorang Istri Tua
Konon, pada masa dahulu, hiduplah sepasang suami istri yang
sederhana. Mereka tinggal di sebuah pondok di tepian hutan. Sang suami dikenal
sebagai lelaki yang rajin bekerja namun mulai berubah setelah kedatangan
seorang perempuan muda yang menarik hatinya. Tanpa pikir panjang, ia memutuskan
menikah lagi—mengambil istri muda dan memadunya dengan istri pertamanya yang
setia dan bersahaja.
Istri tua yang telah menemani sang suami sejak awal
kehidupan mereka merasa sangat terluka. Namun karena adat dan kedudukan
perempuan saat itu, ia hanya bisa diam dan menerima. Hatinya remuk, tapi air
matanya tidak lagi keluar. Ia memilih merawat anak mereka yang masih kecil,
menjauh perlahan dari kehidupan rumah yang kini penuh luka batin.
Hingga suatu hari, istri tua itu menghilang. Ia pergi begitu
saja meninggalkan rumah. Tak seorang pun tahu ke mana ia melangkah.
Tanda Kepergian dan Tangisan Bayi
Keesokan harinya, bayi yang biasa diasuh sang istri tua
menangis tiada henti. Sang suami panik. Ia mencari istrinya ke seluruh penjuru
desa, menanyakan ke tetangga, menyusuri jalan setapak menuju hutan dan sungai,
namun tak jua ditemukan.
Sampai akhirnya ia mendengar tangisan bayi itu terdengar
dari arah sebuah batu besar di pinggir kebun. Batu itu tampak berubah bentuk:
tidak seperti biasanya. Seolah membelah, membentuk celah kecil di
tengah-tengahnya. Di sana, sang suami melihat sesuatu yang mengejutkan: sehelai
rambut panjang terjepit di celah batu. Ia kenal rambut itu. Rambut milik
istrinya.
Ia mencoba menarik rambut itu. Ia berusaha memanggil nama
istrinya. Tapi semakin ditarik, rambut itu terasa seolah tertanam dalam batu.
Seperti tubuh sang istri telah ditelan, atau dipeluk batu itu erat-erat—seolah
tak mau dilepaskan.
Batu yang Menangis
Masyarakat setempat percaya bahwa batu itu telah menjadi saksi
sekaligus pelindung bagi hati yang tersakiti. Istri tua yang pergi membawa
luka, memilih menyerahkan tubuh dan jiwanya kepada alam. Alam membalas
kesetiaan dan deritanya dengan memeluknya dalam bentuk batu.
Sejak saat itu, batu tersebut dikenal dengan nama Batu
Takup—simbol dari hati yang tertutup oleh derita, dari tubuh yang tak lagi
ingin kembali pada dunia yang menyakitinya.
Cerita dari Para Tetua
Hingga kini, para tetua di Desa Talang Arah masih menuturkan
legenda ini kepada anak cucu mereka. Batu Takup menjadi pengingat akan:
- Akibat
dari ketidakadilan dalam rumah tangga
- Bahaya
dari poligami yang tidak bijak
- Kekuatan
cinta dan luka yang bisa meresap ke dalam alam
Batu Takup tidak lagi sekadar batu. Ia menjadi tempat ziarah
batin, tempat renungan, dan cermin budaya lokal yang kaya akan nilai moral.
Hubungan dengan Batu Malin Deman
Menariknya, di Kecamatan yang sama—Malin
Deman—terdapat pula sebuah batu lain yang tak kalah legendaris: Batu Malin
Deman. Batu ini dikaitkan dengan kisah seorang pemuda bernama Ahli Deman
atau Malin Deman, yang jatuh cinta pada putri kayangan bernama Puti
Bungsu.
Kisah ini lebih bernuansa mitos dan keajaiban. Dalam legenda
ini, Malin Deman mencuri selendang Puti Bungsu saat ia mandi di sungai,
sehingga sang putri tak bisa kembali ke kayangan. Mereka akhirnya menikah,
namun suatu hari Puti Bungsu menemukan kembali selendangnya dan menghilang.
Batu tempat mereka biasa bertemu dan memadu kasih kini disebut Batu Malin
Deman.
Berbeda dengan Batu Takup yang tragis dan menyayat
hati, Batu Malin Deman adalah simbol cinta yang direnggut oleh waktu dan
takdir.
Lokasi dan Potensi Wisata
- Desa
Talang Arah, Kecamatan Malin Deman, berjarak sekitar 3 jam perjalanan
dari pusat Kota Mukomuko.
- Batu
Takup kini berada di wilayah kebun sawit, dan sebagian telah dibelah oleh
perusahaan untuk dijadikan jalan setapak. Meski begitu, bentuk batu yang
khas masih bisa dilihat dan menjadi daya tarik tersendiri.
- Potensi
wisata budaya, ziarah legenda, dan pendidikan moral sangat besar jika
dikelola dengan baik.
Pesan Moral Legenda Batu Takup
- Kesetiaan
dan cinta sejati tidak selalu dihargai di dunia, tapi akan dikenang oleh
alam.
- Poligami
tanpa keadilan melahirkan luka yang dalam dan abadi.
- Perempuan
dalam cerita rakyat sering menjadi simbol kesucian, penderitaan, dan
kekuatan spiritual.
- Alam menyimpan jejak dari penderitaan manusia—ia tidak melupakan.
