Di balik lebatnya hutan Bengkulu Utara, tersembunyi sebuah
desa kecil yang tak banyak diketahui orang: Lebong Tandai. Desa ini
bukan desa biasa. Ia menyimpan kisah tentang emas, kemegahan, penjajahan, dan
perjuangan yang tak lekang oleh zaman.
Awal Mula: Lubang yang Ditandai
Konon, nama Lebong Tandai berasal dari sebutan para
penambang Belanda yang menandai setiap lubang emas yang mereka gali di tengah
hutan. “Tandai” dalam bahasa mereka menjadi semacam kode: di sinilah emas
tersembunyi.
Awal 1900-an, kolonial Belanda datang membawa alat berat dan
ambisi besar. Mereka mendirikan perusahaan tambang emas raksasa bernama Mijnbouw
Maatschappij Simau (MMS) dan Redjang Lebong Company. Di bawah tanah
Lebong Tandai, emas dan perak mengalir seperti mata air: ribuan kilogram
emas berhasil ditambang dan dikirim ke Batavia dan Eropa.
Batavia Kecil di Pedalaman
Saat tambang emas mencapai puncaknya, Lebong Tandai berubah
total. Di tengah hutan, berdirilah bangunan megah yang tak kalah dari kota
besar. Ada rumah sakit dengan tenaga medis modern. Ada bioskop, arena biliar,
lapangan tenis, bahkan diskotik dan rumah bordil untuk para pekerja tambang.
Warga menyebutnya "Batavia Kecil".
Di masa itu, listrik menyala 24 jam penuh—bukan dari PLN,
tapi dari turbin mikrohidro yang dibangun Belanda di Sungai Lusang. Sebuah
peradaban kecil tumbuh, lengkap dengan rel kereta tambang yang kini berubah
menjadi jalur transportasi unik bernama Molek (Motor Lori Ekspres).
Dari Lebong ke Monas
Tapi bukan hanya soal kekayaan dan kemewahan. Emas dari
Lebong Tandai juga menyatu dalam sejarah bangsa. Ketika Presiden Soekarno
membangun Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, emas murni seberat 28
kilogram dari Lebong Tandai dijadikan pelapis lidah api di puncaknya. Dari
hutan ke Monas, emas itu menjadi simbol kejayaan dan kebanggaan Indonesia.
Perubahan Setelah Kemerdekaan
Saat Belanda angkat kaki, tambang emas ini tak lagi diurus
oleh korporasi asing. Masyarakat lokal mengambil alih. Mereka mengais sisa-sisa
emas dengan alat sederhana, menggali kembali lubang-lubang tua yang pernah
dibangun penjajah.
Tahun 1980-an, masuklah PT Lusang Mining, perusahaan
nasional yang mencoba menghidupkan kembali kejayaan tambang. Namun, mimpi itu
kandas. Tahun 1995, perusahaan mundur dan meninggalkan desa. Sejak itu, rakyat
kembali menambang dengan cara tradisional—bertahan hidup dari tanah yang dulu
begitu mewah.
Desa yang Terlupakan
Kini, Lebong Tandai ibarat kota emas yang membeku dalam
waktu. Untuk mencapainya, orang harus naik motor lori menembus hutan sejauh
lebih dari 30 kilometer. Tak ada jalan mobil, tak ada sinyal. Tapi di sanalah
jejak kejayaan masa lalu masih bisa disentuh.
Anak-anak bermain di bekas landasan helikopter Belanda.
Warga masih hidup dari emas, meski tak lagi berlimpah. Setiap malam, cahaya
lampu dari turbin mikrohidro menyala—seakan masih menyala dari zaman kolonial.
Lebong Tandai tak lagi megah, tapi sejarahnya tak tergantikan.
Kini, desa kecil ini bukan lagi pusat kekayaan, tapi
menjadi saksi bisu tentang bagaimana emas bisa membangun peradaban—dan
bagaimana manusia harus bertahan ketika semua kemewahan itu hilang.
Jika suatu hari kau berkunjung ke sana, dengarkan suara rel
berderit dari Molek, dan bayangkan: di sanalah emas untuk puncak Monas pernah
digali. Di sanalah, sejarah bangsa pernah ditulis dalam diam.
