Pesona Laut Selatan di Ujung Bengkulu
Kabupaten Mukomuko, yang terletak di ujung utara
Provinsi Bengkulu, menyimpan garis pantai panjang yang menawan. Dari Air Dikit
hingga Air Punggur, hamparan laut biru membentang luas, memantulkan cahaya
matahari sore yang keemasan. Angin laut yang lembut dan deburan ombak yang
bersahutan menciptakan suasana tenang yang khas di pesisir barat Sumatera ini.
Namun di balik keindahannya, tersimpan kisah nyata yang
menggetarkan: abrasi pantai yang perlahan-lahan “memakan” daratan,
menggerus kebun kelapa, bahkan mendekati rumah warga dan jalan utama. Fenomena
ini bukan sekadar cerita, tetapi kenyataan alam yang setiap tahun menelan
meter demi meter tanah pesisir Mukomuko.
Ketika Laut Mulai Menelan Daratan
Warga setempat menyebutnya “Pantai Abrasi”. Nama ini
muncul bukan karena keindahannya semata, tetapi karena kondisi alam yang
semakin kritis. Menurut catatan Dinas PUPR Kabupaten Mukomuko dan Balai
Wilayah Sungai Sumatera (BWSS VII), abrasi telah terjadi sejak akhir
1980-an dan meningkat tajam sejak tahun 2000-an.
Dulu, garis pantai di daerah Air Dikit, Pulai Payung, hingga
Koto Jaya masih jauh dari permukiman. Kini, jarak antara laut dan rumah warga
hanya beberapa meter saja. Setiap musim angin barat (sekitar November–Maret),
ombak besar datang menghantam daratan, membawa pasir dan akar pohon yang
tercabut.
Data dari Dinas PUPR Mukomuko (2023) menunjukkan, abrasi
di beberapa titik pesisir menggerus hingga 10–12 meter daratan setiap tahun,
terutama di kawasan Air Dikit, Sari Bulan, dan Pulai Payung. Bahkan,
beberapa makam tua di tepi pantai ikut terseret ombak, meninggalkan
kesedihan mendalam bagi warga.
Faktor Alam dan Ulah Manusia
Kajian Universitas Bengkulu (UNIB, 2022) juga menyebutkan bahwa pantai Mukomuko termasuk dalam kategori kerentanan tinggi terhadap abrasi, berdasarkan hasil penelitian Indeks Kerentanan Pantai (IKP) di wilayah Bengkulu bagian utara.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Selain itu, abrasi juga berdampak pada akses ekonomi. Banyak nelayan kehilangan lokasi bersandar perahu karena garis pantai terus mundur. Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang membentang di tepi pantai juga beberapa kali rusak akibat longsoran pasir dan hantaman ombak.
Antara Ancaman dan Harapan
Meski menghadapi ancaman abrasi, keindahan Pantai Abrasi
Mukomuko tetap memikat. Banyak pengunjung datang untuk menikmati matahari
terbenam (sunset), memotret pemandangan laut yang memukau, atau sekadar
duduk di atas batu pemecah ombak sambil menikmati semilir angin laut.
Warga pun mulai beradaptasi. Mereka menanam mangrove dan
cemara laut untuk memperkuat bibir pantai. Pemerintah daerah melalui Dinas
Lingkungan Hidup dan PUPR terus mendorong upaya rehabilitasi dan
perlindungan pantai.
Beberapa komunitas lokal bahkan mengubah kawasan Pantai Abrasi menjadi objek wisata edukatif, tempat masyarakat belajar tentang lingkungan pesisir dan bahaya abrasi.
Pantai yang Mengajarkan Banyak Hal
Pantai Abrasi Mukomuko kini menjadi simbol hubungan
manusia dan alam. Ia mengingatkan bahwa keindahan laut tidak lepas dari
tanggung jawab besar untuk menjaganya. Abrasi bukan sekadar bencana, tetapi
peringatan bahwa alam memiliki batas kesabaran.
“Laut memberi kehidupan, tetapi juga bisa mengambil kembali
jika kita lalai menjaganya.”
Mukomuko dengan lautnya yang megah telah menjadi saksi perjuangan masyarakat pesisir melawan perubahan alam. Semoga lewat kesadaran bersama, Pantai Abrasi bukan hanya dikenang karena kehilangan daratannya, tetapi karena berhasil dipulihkan oleh tangan-tangan manusia yang mencintai alamnya.
Penutup
Pantai Abrasi Mukomuko adalah potret nyata tentang keindahan
yang berjuang melawan ancaman. Ia indah, tapi rapuh; luas, tapi perlahan
tergerus. Menjaga pantai bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab
semua pihak. Sebab, di setiap butir pasir yang hilang, tersimpan sejarah,
budaya, dan masa depan masyarakat Mukomuko.
Oleh: Redaksi Hata Pena Bengkulu
Referensi dan Sumber Data Resmi
- Dinas
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mukomuko, Laporan
Pemantauan Abrasi Pesisir 2023.
- Balai
Wilayah Sungai Sumatera VII (BWSS VII), Rencana Teknis Pengamanan
Pantai Mukomuko, 2023.
- Antara
Bengkulu:
- “Belasan
Meter Daratan Mukomuko Hilang Akibat Abrasi” (antaranews.com, 2024).
- “Dinas
PUPR Koordinasikan Solusi Atasi Abrasi Pantai di Mukomuko” (2023).
- Radar
Bengkulu, “Waspada Ombak Laut Mukomuko, 19 Bangunan Rusak” (2024).
- Universitas
Bengkulu (UNIB) – Jurnal Enggano, Analisis Indeks Kerentanan Pantai
Wilayah Pesisir Bengkulu Utara dan Mukomuko, Vol. 7 No. 2, 2022.
- DLH
Kabupaten Mukomuko, Program Penanaman Mangrove Pesisir Barat
2023–2024.
