CERITA RAKYAT MUKOMUKO "Kerajaan Gaib di Danau Nibung"


(Foto danau nibung Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu)

Ini merupakan cerita fiktif yang di karang oleh penulis, silahkan di ambil pesan moral yang baik-baik saja

1 — Padang yang Subur

Dahulu kala, di wilayah yang kini dikenal sebagai Danau Nibung di Kabupaten Mukomuko, hiduplah seorang pemuda bernama Bujang Jaya. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah gubuk kecil di tepi padang luas yang subur dan hijau.

Setiap hari, Bujang Jaya bekerja keras membantu ibunya menanam padi dan mencari hasil hutan. Meskipun hidup sederhana, hatinya selalu gembira. Ia dikenal di kampung sebagai pemuda yang jujur, ramah, dan suka menolong siapa saja yang membutuhkan.

“Bujang, jangan lupa berdoa sebelum berangkat, ya,” pesan ibunya setiap pagi.

“Iya, Ibu. Semoga hari ini rezeki kita bertambah,” jawab Bujang Jaya sambil tersenyum.

2 — Pertemuan Ajaib di Tengah Hutan

Suatu hari, Bujang Jaya pergi berburu rusa untuk membantu ibunya. Ia berjalan jauh ke dalam hutan hingga tiba di sebuah lembah yang belum pernah ia datangi. Di sana ia mendengar suara hewan yang terjebak.

Ketika didekati, ternyata seekor rusa putih terperangkap di semak berduri. Bulu rusa itu berkilau seperti perak, matanya lembut, dan tubuhnya tampak lemah.

“Oh, kasihan kamu...” ucap Bujang Jaya sambil mendekat perlahan.

Dengan hati-hati ia melepaskan duri-duri yang melilit tubuh rusa itu. Begitu rusa bebas, tiba-tiba cahaya putih terang menyilaukan mata. Rusa itu berubah menjadi seorang putri cantik berpakaian kebesaran berwarna biru laut.

“Terima kasih, wahai manusia berhati mulia. Aku adalah Putri Nibung, putri dari Kerajaan Gaib yang bersemayam di bawah bumi dan air,” katanya lembut.

Bujang Jaya terkejut, namun ia menunduk hormat. Putri Nibung lalu mengulurkan tangannya.

“Sebagai tanda terima kasih, ikutlah bersamaku ke negeriku. Kau akan melihat dunia yang belum pernah dilihat manusia.”

Tanah di bawah mereka terbelah perlahan, dan jalan bercahaya muncul. Bujang Jaya pun menuruni tangga emas menuju dunia bawah.

3 — Kerajaan di Dasar Air

Bujang Jaya tiba di tempat yang luar biasa indah. Air jernih mengalir seperti kristal, dan bunga-bunga bercahaya tumbuh di setiap sisi. Ikan-ikan berwarna perak menari-nari di udara, sementara burung berkilau beterbangan membawa aroma harum.

Istana Putri Nibung berdiri megah — dindingnya dari batu giok, atapnya dari mutiara, dan lantainya berkilau seperti kaca.

Di sana, Bujang Jaya disambut oleh Raja Nibung Sakti, ayah sang putri, yang bijaksana dan berwibawa. Ia tersenyum dan berkata:

“Anak muda, kebaikanmu telah menolong putriku. Sebagai balasan, engkau adalah tamu kami yang terhormat.”

Hari demi hari berlalu, Bujang Jaya belajar banyak hal: tentang kebijaksanaan, keindahan alam, dan keseimbangan antara dunia manusia dan dunia gaib. Ia dan Putri Nibung menjadi semakin akrab hingga akhirnya Raja Nibung Sakti menikahkan mereka.

4 — Rindu yang Tak Tertahankan

Tujuh purnama berlalu. Bujang Jaya hidup bahagia di kerajaan bawah air. Namun suatu malam, ia duduk termenung di tepi taman istana, menatap gelembung air yang memantulkan wajah ibunya.

“Aku rindu Ibu... Aku ingin melihatnya walau sebentar,” gumamnya lirih.

Putri Nibung menatap suaminya dengan sedih.

“Jika engkau sungguh ingin kembali, aku izinkan. Tapi ingatlah satu hal: jangan menoleh ke belakang sebelum sampai di rumah ibumu. Jika kau menoleh, kerajaan ini akan tertutup selamanya, dan kita tak akan pernah bisa bertemu lagi.”

Bujang Jaya berjanji. Ia pun berpamitan kepada Raja Nibung Sakti dan semua penghuni kerajaan.

5 — Amblasnya Padang Nibung

Dengan bantuan Putri Nibung, Bujang Jaya naik kembali ke permukaan bumi. Ia membawa setitik air suci dalam kendi, tanda cinta dari istrinya.

Jalan menuju dunia atas terasa panjang. Angin berhembus lembut, dan suara air berdesir di telinganya. Ia terus berjalan menuju rumah ibunya.

Namun, ketika hampir sampai di tepi hutan, ia mendengar suara lembut memanggil dari belakang:

“Bujang... tunggulah aku...”

Suara itu adalah suara Putri Nibung! Hatinya terguncang. Ia menoleh tanpa sadar.

Sekejap kemudian, bumi berguncang hebat. Dari bawah tanah memancar air deras yang tak terbendung. Dalam sekejap, padang luas itu tenggelam menjadi sebuah danau besar.

Bujang Jaya pun lenyap, bersama air yang meluap. Hanya kendi kecil berisi air suci yang terdampar di tepi danau — kini disebut oleh penduduk sebagai Danau Nibung.

6 — Misteri dan Pesan Abadi

Sejak saat itu, penduduk Mukomuko percaya bahwa Kerajaan Gaib Nibung masih hidup di bawah danau tersebut. Kadang, di malam bulan purnama, terlihat cahaya kebiruan dari tengah air, atau terdengar suara gamelan halus mengalun dari dasar danau.

Para tetua kampung berkata:

“Itulah tanda bahwa Putri Nibung dan Bujang Jaya masih menjaga keseimbangan alam. Danau itu bukan tempat biasa, melainkan gerbang antara dunia manusia dan dunia gaib.”

Pesan Moral

  1. Kebaikan hati akan membawa keberkahan, bahkan dari dunia yang tak terlihat.
  2. Kesetiaan dan ketaatan pada janji adalah tanda kebijaksanaan sejati.
  3. Alam harus dihormati dan dijaga, sebab di dalamnya hidup makhluk lain ciptaan Tuhan yang juga menjaga keseimbangan dunia.

Demikianlah legenda Kerajaan Gaib di Danau Nibung, sebuah cerita dari tanah Mukomuko yang terus diwariskan turun-temurun, mengingatkan kita agar selalu hidup selaras dengan alam dan menepati setiap janji yang diucapkan. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama