Ketika Trans7 Salah Kaprah: Ro’an dan Tawadu’ Bukan Perbudakan Santri

 




Beberapa waktu lalu, sebuah tayangan di stasiun Trans7 menampilkan kegiatan santri di pesantren — mulai dari menyapu, mencuci piring, hingga membantu ustaz — dan dengan enteng menyebutnya sebagai bentuk eksploitasi dan perbudakan.
Sebagai alumni pondok pesantren, saya merasa perlu menulis tanggapan ini. Bukan karena saya tersinggung secara pribadi, tapi karena narasi seperti ini menyesatkan publik dan merendahkan nilai luhur dunia pesantren.

Roan Bukan Eksploitasi, Tapi Latihan Ikhlas dan Kebersamaan

Di pesantren, kami mengenal istilah ro’an — kerja bakti membersihkan lingkungan asrama, masjid, kamar mandi, dapur, hingga halaman.
Saya masih ingat betul, saat sapu lidi di tangan terasa berat, bukan karena terpaksa, tapi karena rasa tanggung jawab. Kami bekerja bersama, bercanda, saling menyiram, lalu menutup kegiatan dengan nasi bungkus dan teh hangat.

Ro’an bukan perintah paksa, tapi kegiatan sosial yang mengajarkan santri arti ikhlas, disiplin, dan gotong royong.
Jujur saja, saya dulu termasuk santri bandel — kadang malas ngaji, suka kabur ke warung, dan sering ketiduran di kelas kitab. Tapi ketika ustaz atau kiyai meminta saya ikut ro’an, saya justru senang. Ada rasa bangga dan diperhatikan.
Bagi saya, itu bukan eksploitasi — itu bentuk kepercayaan dan kedekatan.

Bahkan, ro’an sering jadi cara kami refreshing dari rutinitas berat seperti menghafal kitab atau mengaji berjam-jam. Di tengah debu, air, dan sapu, kami justru menemukan tawa dan kebersamaan.



Tawadu Itu Penghormatan, Bukan Ketundukan Buta

Begitu pula dengan tawadu’ — sikap hormat kepada guru dan kiyai.
Media sering salah paham: mengira mencium tangan guru atau tunduk di hadapan kiyai sebagai simbol ketakutan. Padahal, bagi kami, itu tanda penghormatan terhadap ilmu dan keberkahan.

Kami tahu, ilmu tidak hanya soal isi kepala, tapi juga soal adab hati.
Guru di pesantren bukan bos, tapi pembimbing jiwa. Kami tunduk bukan karena jabatan, tapi karena keilmuan dan keikhlasan mereka mengajar tanpa pamrih.

Saya sering mengibaratkan santri seperti pejabat yang tunduk kepada pimpinan. Bedanya, santri tunduk bukan karena protokol, tapi karena rasa hormat dan cinta.
Bagi kami, tawadu’ adalah etika spiritual — bukan bentuk perbudakan.

Media dan Kacamata Sekuler

Kesalahan terbesar media seperti Trans7 adalah melihat pesantren dengan kacamata pasar dan logika kota: bahwa setiap kerja harus dibayar, setiap tunduk harus dicurigai.
Padahal, kehidupan pesantren justru mendidik manusia agar tidak selalu menimbang hidup dengan uang dan jabatan.

Pesantren melatih karakter — bukan sekadar mencetak hafiz atau ustaz, tapi manusia yang tahu arti hormat, ikhlas, dan tanggung jawab.
Ironis, ketika lembaga yang mengajarkan nilai luhur justru dituduh mengeksploitasi oleh mereka yang tidak pernah hidup di dalamnya.

Refleksi Seorang Santri Bandel

Saya menulis ini bukan sebagai santri suci. Saya dulu bandel, malas, dan sering ditegur. Tapi justru karena itu saya tahu, bahwa pesantren bukan tempat menindas, melainkan tempat membentuk jiwa.
Ketika saya mengelap lantai masjid, itu bukan hukuman. Itu latihan sabar.
Ketika saya mencium tangan kiyai, itu bukan bentuk tunduk. Itu latihan rendah hati.

Kini, setelah bertahun-tahun meninggalkan pesantren, saya menyadari:
Semua pelajaran tentang tanggung jawab, disiplin, dan hormat itu lahir bukan di kelas, tapi di momen-momen sederhana — saat ro’an, saat ditegur, dan saat diminta membantu guru.

Penutup

Saya ingin menyampaikan pesan sederhana untuk media:
Sebelum menilai, datanglah dan rasakan sendiri hidup di pesantren.
Lihat bagaimana santri tersenyum sambil bekerja, bagaimana mereka mencuci piring dengan ikhlas, dan bagaimana mereka mencium tangan kiyai dengan cinta.

Di sana tidak ada rantai perbudakan. Yang ada hanya rantai nilai — ikhlas, tawadu’, dan adab — yang menjadi pondasi bangsa ini berdiri.

Tentang Penulis

Hasta Pena Bengkulu adalah alumni salah satu pondok pesantren di Provinsi Bengkulu, pemerhati budaya dan pendidikan religius. Aktif menulis opini dan esai reflektif tentang pesantren, tradisi Islam, dan kehidupan sosial masyarakat pesisir Sumatera.

 

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama