Provinsi Bengkulu terletak di pesisir barat Pulau Sumatra,
dan memiliki kekayaan sejarah yang terbentang dari masa kerajaan tradisional,
kolonialisme Eropa, hingga masa kemerdekaan. Bengkulu bukan hanya sekadar
wilayah administratif Indonesia modern, tetapi juga saksi penting dari berbagai
peristiwa besar yang membentuk wajah bangsa.
1. Masa Pra-Kolonial: Pengaruh Kerajaan-Kerajaan Lokal
Sebelum kedatangan bangsa Eropa, wilayah Bengkulu merupakan
bagian dari jalur perdagangan maritim yang penting di barat Sumatra. Beberapa
kerajaan yang pernah berpengaruh di wilayah ini antara lain:
- Kerajaan
Sungai Serut dan Kerajaan Selebar: Dua kerajaan lokal yang
terletak di sekitar wilayah Kota Bengkulu sekarang. Mereka memiliki
struktur pemerintahan adat yang kuat dan menjalin hubungan dagang dengan
pedagang dari berbagai wilayah.
- Kerajaan
Inderapura: Terletak di wilayah yang kini termasuk dalam Kabupaten
Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kerajaan ini memiliki pengaruh yang cukup
besar di wilayah Bengkulu utara.
- Kesultanan
Banten: Pada abad ke-17, Kesultanan Banten dari Pulau Jawa memperluas
pengaruhnya ke wilayah Bengkulu, terutama karena potensi dagang lada yang
sangat besar. Banten sempat menguasai wilayah pesisir Bengkulu sebelum
kehadiran bangsa Eropa.
2. Penjajahan Inggris: Era Bencoolen dan Benteng
Marlborough
Kepentingan Inggris terhadap wilayah Bengkulu didorong oleh
komoditas lada, yang menjadi primadona perdagangan dunia pada masa itu.
Inggris masuk ke Bengkulu melalui East India Company (EIC).
- Tahun
1685: Inggris secara resmi mendirikan koloni di Bengkulu dengan
membangun Benteng York. Namun, karena kondisi geografis dan
pertahanan yang kurang memadai, mereka kemudian membangun Benteng
Marlborough pada tahun 1714 di pusat Kota Bengkulu.
- Benteng
Marlborough menjadi benteng terkuat Inggris di Asia Tenggara setelah Fort
St. George di Madras, India.
- Bengkulu
kala itu dikenal dengan nama Bencoolen (atau Benkulen dalam ejaan
lama).
- Tokoh
penting dalam sejarah Inggris di Bengkulu adalah Thomas Stamford
Raffles (1818–1824), yang menjabat sebagai Letnan Gubernur Bencoolen.
Ia memperkenalkan berbagai reformasi sosial dan pendidikan serta mencatat
banyak flora dan fauna Sumatra. Raffles juga dikenal sebagai pendiri
Singapura.
Namun, posisi Bengkulu dianggap kurang strategis secara
ekonomi bagi Inggris, terutama dibandingkan Malaka dan Singapura.
3. Penyerahan ke Belanda dan Masa Hindia Belanda
- Perjanjian
London 1824 antara Inggris dan Belanda menandai berakhirnya kekuasaan
Inggris di Bengkulu. Sebagai hasil perjanjian itu, Inggris menyerahkan
Bengkulu kepada Belanda dan sebagai gantinya memperoleh kendali atas
Malaka dan pengakuan atas Singapura.
- Sejak
tahun 1825, Bengkulu berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda dan menjadi
bagian dari Karesidenan Palembang, kemudian berkembang menjadi
karesidenan sendiri.
- Pemerintahan
kolonial Belanda memperkenalkan sistem tanam paksa dan memanfaatkan
pelabuhan Bengkulu untuk ekspor komoditas seperti kopi, lada, dan hasil
hutan.
4. Masa Penjajahan Jepang (1942–1945)
Selama pendudukan Jepang dalam Perang Dunia II, Bengkulu
berada di bawah kendali militer Jepang. Kehidupan masyarakat sangat sulit
akibat penjarahan, kerja paksa (romusha), dan represi terhadap tokoh
pergerakan.
Namun, masa ini juga menumbuhkan semangat nasionalisme dan
memperkuat jaringan perlawanan di Bengkulu, terutama dari kalangan pemuda dan
tokoh agama.
5. Tempat Pengasingan Soekarno
Salah satu momen penting dalam sejarah Bengkulu adalah
pengasingan Ir. Soekarno oleh Belanda ke kota ini pada tahun 1938–1942.
- Selama
di Bengkulu, Soekarno aktif dalam kegiatan dakwah, pendidikan, dan politik
melalui organisasi Muhammadiyah.
- Di
kota inilah Soekarno bertemu dengan Fatmawati, seorang gadis dari
keluarga Muhammadiyah, yang kemudian menjadi istrinya dan menjahit bendera
pusaka Merah Putih yang dikibarkan saat Proklamasi 17 Agustus 1945.
Rumah pengasingan Soekarno kini menjadi situs bersejarah dan
destinasi wisata penting di Kota Bengkulu.
6. Bengkulu dalam Revolusi dan Pasca-Kemerdekaan
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, masyarakat Bengkulu
turut aktif mempertahankan kemerdekaan. Namun, karena keterbatasan
infrastruktur dan komunikasi, wilayah ini sempat berada dalam bayang-bayang
kekuasaan kolonial Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada
tahun 1949, Bengkulu masuk ke dalam wilayah administratif Provinsi Sumatera
Selatan.
7. Pembentukan Provinsi Bengkulu
Keinginan untuk memiliki provinsi sendiri telah muncul sejak
lama, terutama karena keterpencilan geografis Bengkulu dan perbedaan
karakteristik budaya serta sejarahnya dibanding Sumatera Selatan.
- Aspirasi
ini akhirnya terwujud melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967.
- Provinsi
Bengkulu secara resmi berdiri pada tanggal 18 November 1968,
berdasarkan PP No. 20 Tahun 1968, dengan Kota Bengkulu
sebagai ibu kota provinsi.
- Bengkulu
menjadi provinsi ke-26 dalam struktur administratif Republik Indonesia
saat itu.
8. Perkembangan Administratif dan Sosial Budaya
Saat ini, Provinsi Bengkulu terdiri dari 9 kabupaten dan
1 kota, yaitu:
- Kabupaten
Bengkulu Utara
- Kabupaten
Bengkulu Tengah
- Kabupaten
Bengkulu Selatan
- Kabupaten
Kaur
- Kabupaten
Seluma
- Kabupaten
Rejang Lebong
- Kabupaten
Kepahiang
- Kabupaten
Lebong
- Kabupaten
Mukomuko
- Kota
Bengkulu
Secara budaya, masyarakat Bengkulu terdiri dari berbagai suku bangsa, termasuk Rejang, Serawai, Pekal, Lembak, serta komunitas transmigran dari Jawa, Sunda, dan Batak.
Penutup
Sejarah Provinsi Bengkulu merupakan potret perjalanan
panjang sebuah wilayah yang strategis dan kaya sumber daya. Dari kekuasaan
kerajaan lokal, kolonialisme Inggris dan Belanda, pengasingan tokoh
proklamator, hingga perjuangan administratif menjadi provinsi sendiri, Bengkulu
memiliki peran penting dalam mozaik sejarah Indonesia. Jejak masa lalu itu kini
menjadi bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Bengkulu di era modern.
