/> Hutan Sumatra yang Terus Hilang: Tergerus Sawit, Tambang, dan Ancaman Ekosistem

Hutan Sumatra yang Terus Hilang: Tergerus Sawit, Tambang, dan Ancaman Ekosistem

 


Hutan tropis Sumatra pernah menjadi salah satu kawasan hijau terkaya di dunia. Namun kini, sebagian besar hutannya tinggal cerita. Seiring laju ekspansi industri kelapa sawit, pertambangan, dan konversi lahan skala besar, Sumatra mengalami kehilangan hutan yang sangat masif. Tak hanya mengancam keanekaragaman hayati, kondisi ini juga memicu bencana ekologis yang terus memburuk dari tahun ke tahun.

Laju Deforestasi: Separuh Hutan Sumatra Telah Hilang

Sejak tahun 1985, Sumatra telah kehilangan hampir 50 persen tutupan hutannya. Dari luas hutan sekitar 44 juta hektare pada 1985, kini tersisa hanya sekitar 11 juta hektare di tahun 2016. Di Provinsi Riau saja, antara 1985 hingga 2009, tercatat kehilangan sekitar 4,4 juta hektare atau 63 persen hutan alaminya.

Secara keseluruhan, antara tahun 2001 hingga 2019, Sumatra menyumbang sekitar 4,08 juta hektare deforestasi, atau 25 persen dari total kehilangan hutan Indonesia selama periode tersebut. Angka ini mencerminkan kerusakan besar yang terjadi dalam rentang waktu kurang dari dua dekade.

Sawit dan Tambang, Dua Penyebab Utama

Kelapa Sawit

Ekspansi kebun kelapa sawit menjadi penyebab utama deforestasi di Sumatra. Sekitar 31 persen deforestasi antara 2001–2019 berasal dari konversi lahan menjadi perkebunan sawit. Bahkan pada tahun 2024, angka kehilangan hutan di Sumatra mencapai 91.248 hektare, tiga kali lipat dari tahun sebelumnya.

Di dalam kawasan konservasi pun tak luput dari kerusakan. Taman Nasional Tesso Nilo di Riau, misalnya, telah kehilangan hampir sepertiga arealnya (28.600 ha) karena pembukaan kebun sawit ilegal.

Pertambangan

Selain sawit, pertambangan—terutama tambang nikel dan batu bara—juga berkontribusi besar terhadap penggundulan hutan. Tambang-tambang ini kerap merangsek masuk ke kawasan hutan lindung, menghancurkan ekosistem yang sebelumnya nyaris tak tersentuh.

Kehilangan Habitat, Terancamnya Satwa Kritis

Hilangnya hutan berarti hilangnya rumah bagi berbagai satwa liar khas Sumatra. Di antara yang paling terancam adalah:

  • Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), yang sangat bergantung pada hutan untuk bertahan hidup.
  • Gajah Sumatra, yang habitatnya semakin terfragmentasi.
  • Orangutan Sumatra, yang kian sulit menemukan tempat berlindung karena pohon-pohon tempat mereka bersarang ditebangi.
  • Badak Sumatra, salah satu spesies paling langka di dunia yang nyaris punah karena kehilangan habitat.

Kawasan konservasi seperti Taman Nasional Kerinci Seblat bahkan kehilangan sekitar 55.200 hektare hutan primer hanya dalam periode 2002–2022. Aktivitas pertanian ilegal dan pembalakan menjadi penyebab utama.

Bencana Ekologis yang Mengintai

Deforestasi tak hanya berdampak pada satwa liar, tapi juga membawa malapetaka bagi manusia. Hilangnya tutupan hutan memperparah:

  • Banjir dan tanah longsor
  • Kekeringan dan krisis air bersih
  • Polusi udara dari kebakaran hutan
  • Pemanasan global akibat emisi karbon dari lahan gambut

Sebuah studi mencatat bahwa kawasan hutan di Sumatra menyumbang emisi karbon tahunan yang lebih besar dibanding total emisi gabungan Belanda, Australia, dan Inggris—hanya dari aktivitas kebakaran dan konversi lahan.

Upaya Penyelamatan dan Tantangannya

Beberapa perusahaan besar seperti Wilmar, Musim Mas, dan APRIL Group telah menyatakan komitmen untuk tidak lagi melakukan deforestasi. Namun, pengawasan dan implementasinya di lapangan masih lemah.

Laporan terbaru mencatat bahwa deforestasi akibat sawit memang sempat menurun, namun kembali meningkat di tahun 2022–2024, terutama di Sumatra.

Program restorasi seperti penanaman kembali dan konsep "tree islands" di perkebunan sawit mulai dilakukan, namun upaya ini belum mampu menggantikan fungsi ekologis hutan primer yang hilang.

Tabel Data Ringkas

Wilayah / Periode

Luas Hutan Hilang

Penyebab Utama

Sumatra (1985–2016)

33 juta ha

Sawit, tambang, konversi lahan

Riau (1985–2009)

4,4 juta ha

Sawit, pulpwood

Sumatra (2001–2019)

4,08 juta ha

Sawit (31%), logging, tambang

Tesso Nilo (hingga kini)

28.600 ha

Sawit ilegal

Kerinci Seblat (2002–2022)

55.200 ha

Pertanian ilegal, logging

Sumatra (2024)

91.248 ha

Sawit, tambang

Kesimpulan: Hutan yang Menipis, Harapan yang Harus Dijaga

Jika tidak ada tindakan nyata, Sumatra akan kehilangan sebagian besar sisa hutan tropisnya dalam waktu dekat. Hutan yang dulunya menjadi paru-paru dunia dan rumah bagi satwa eksotis kini tinggal sepotong-sepotong.

Perlindungan hutan harus melibatkan semua pihak: pemerintah, perusahaan, masyarakat lokal, dan komunitas internasional. Penegakan hukum yang tegas, edukasi publik, serta praktik industri berkelanjutan adalah kunci untuk menyelamatkan apa yang tersisa dari hutan Sumatra.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama