Di sebuah desa terpencil di Sumatera, sebut saja Desa X, terletak di wilayah Kecamatan Y, bagian dari Kota M, terdapat sebuah tempat yang tidak pernah disebut terang-terangan oleh warga. Mereka hanya menyebutnya sebagai: "Tanah Makam Desa X”
Tempat itu adalah sebuah Pemakaman Umum, yang tersembunyi di balik pepohonan dan ilalang yang rimbun. Meski berada tepat di samping jalan lintas waktu itu belum ada aspal, hanya sebuah jalan ke kebun yang menembus antara satu dusun ke dusun lain, Dari luar, hanya terlihat nisan-nisan yang kusam dan ilalang setinggi pinggang. Namun bagi warga setempat, kuburan itu lebih dari sekadar tempat peristirahatan—ia adalah penjaga rahasia yang seharusnya tetap terkubur.
Suatu sore yang kelabu, ketika awan menggantung rendah dan angin seolah membawa bisikan, datanglah seorang penjual hordeng keliling sebut saja Pak Rudi. Ia bukan orang lokal, hanya seorang pedagang dari luar daerah yang mencoba mencari rezeki.
Dengan motor tuanya, ia menelusuri jalan-jalan sempit hingga tanpa sadar masuk ke jalan tanah yang sepi. Entah karena salah arah atau dituntun oleh sesuatu yang tak kasat mata, ia sampai di sebuah kawasan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Di sana, ia melihat sebuah perkampungan kecil dengan deretan rumah-rumah panggung indah dan rapi, seperti potongan dari masa lalu. Anak-anak bermain di pelataran, suara tawa mengudara, dan aroma masakan memenuhi jalan kecil. Seolah-olah, ia menemukan dusun yang tidak tercantum di peta.
Dari semua rumah, satu bangunan paling mencolok: rumah besar berwarna putih mutiara, berdinding papan halus dan ukiran tua di jendelanya. Seorang perempuan tua membuka pintu dan mempersilakannya masuk.
“Masuklah, Nak... ukur semua jendela dan pintu, ya... biar rumah ini punya tirai yang baru...”
Tanpa curiga, Pak Rudi masuk dan mulai mengukur satu per satu. Penghuni rumah—terdiri dari perempuan tua dan beberapa orang lain semuanya hanya menatap Diam. Tatapan mereka kosong namun menghipnotis.
Setelah selesai mengukur, Pak Rudi duduk sejenak, kelelahan. Aroma sedap pandan dan wangi melati membuatnya mengantuk. Ia pun tertidur di kursi rotan ruang tamu.
Pak Rudi menjerit histeris. Suaranya menggema menembus malam dan sepontan beliau lari mencari perkampungan yang sebenarnya, Warga yang tinggal di sekitar kawasan itu melihat pak rudi lari kemudian menyanyakan perihal kejadian apa yang sedang menimpanya.
Lantas pak rudi menceritakan kejadian yang baru saja ia alami.
“Aku... aku cuma ngukur hordeng... di rumah putih itu… rumah itu ada! Ada orangnya! Mereka hidup!” katanya terbata-bata.
Warga hanya saling berpandangan. Salah satu dari mereka berkata lirih:
“Di situ tak pernah ada rumah, Pak… itu kuburan”.
Wargapun menceritakan bahwa di kuburan tersebut memang sering ada penampakan semacam itu, bahkan tak sedikit yang melintas sehabis magrib / sindikala, sering di perlihatkan aroma-aroma bunga kantil, aroma busuk, dll.
Namun kini kondisi makam tersebut sudah tidak seseram dulu karena sudah masuknya penerangan, namunmeski demikian masih banyak warga yang merasa enggan untuk melintasi makam tersebut pada malam hari, terlebih saat gerimis.
