Di sebuah kelurahan kecil di tepi Sungai Selagan, Mukomuko, Bengkulu, berdiri sebuah benteng tua yang telah lama terlupakan oleh sejarah, namun masih diingat oleh cerita-cerita lisan yang tak pernah padam. Namanya Benteng Anna — sebuah situs bersejarah yang menjadi saksi bisu kolonialisme Inggris, sekaligus rumah bagi berbagai mitos dan kisah misterius yang berkembang di tengah masyarakat.
Warisan dari Timur Jauh Kerajaan Inggris
Benteng Anna, atau dalam catatan lama dikenal sebagai Fort Anne, dibangun pada tahun 1798 oleh East India Company (EIC) — korporasi kolonial Inggris yang menguasai perdagangan dan kekuasaan di sebagian besar Asia.
Benteng ini dibangun sebagai pos pertahanan dan pengawasan dagang. Lokasinya yang strategis, tepat di pinggir Sungai Selagan dan dekat pesisir Samudra Hindia, menjadikannya titik penting dalam rantai distribusi komoditas hasil bumi seperti lada, damar, rotan, dan rempah lainnya dari wilayah pesisir barat Sumatra.
Namanya sendiri diyakini diambil dari seorang tokoh bangsawan Inggris, Queen Anne of England, atau sebagai penghormatan kepada “Anna” — simbol perempuan yang identik dengan kekuatan, kehormatan, dan kekuasaan dalam budaya kolonial Inggris saat itu.
Dari Kekuasaan ke Keterlupaan
Benteng Anna sempat menjadi pusat pemerintahan dan pertahanan kolonial Inggris di wilayah Mukomuko. Namun setelah Inggris menyerahkan kekuasaan atas Bengkulu kepada Belanda melalui Traktat London tahun 1824, fungsi benteng mulai ditinggalkan.
Selama puluhan tahun kemudian, benteng ini terbengkalai. Warga sekitar mulai mengambil bata merahnya untuk keperluan membangun rumah. Bahkan sebagian bagian bangunan ikut runtuh dan hanyut oleh arus Sungai Selagan yang kian menggerus tanah di sekitarnya.
Kini, yang tersisa hanya dua meriam tua yang teronggok diam, puing-puing tembok bata, serta sebuah lorong batu pendek — potongan kecil dari masa silam yang masih bisa kita lihat, namun nyaris tak lagi terdengar dalam buku-buku sejarah nasional.
Mitos Lorong Bawah Tanah dan Bisikan Tak Terlihat
Meski wujud fisiknya kian memudar, justru dari puing-puing inilah berbagai kisah mistis dan mitos lokal terus hidup, berpindah dari generasi ke generasi.
Terowongan Rahasia ke Benteng Marlborough
Cerita paling populer adalah tentang sebuah lorong bawah tanah yang konon menghubungkan Benteng Anna di Mukomuko dengan Benteng Marlborough di Kota Bengkulu — yang berjarak lebih dari 250 kilometer.
Menurut warga, lorong ini dahulu digunakan sebagai jalur penyelamatan rahasia bagi para pejabat Inggris, juga sebagai jalur distribusi barang rahasia saat kondisi perang. Namun, hingga kini tak ada bukti arkeologis yang mengungkapkan keberadaan lorong tersebut.
Meriam Kutukan
Kedua meriam yang tersisa di lokasi juga menjadi pusat kepercayaan. Warga meyakini bahwa meriam itu tidak boleh dipindahkan. Setiap upaya untuk memindahkan atau menggesernya disebut-sebut selalu gagal atau bahkan mendatangkan musibah bagi pelakunya. Beberapa warga yang iseng bahkan mengaku mengalami kesurupan, demam tinggi, atau mimpi buruk selama berhari-hari.
Suara Gaib dan Penampakan
Cerita lain menyebutkan adanya penampakan tentara kolonial yang berdiri di sekitar meriam atau suara derap kaki di malam hari. Ada juga yang mendengar suara tiupan terompet, teriakan komando, atau dentuman meriam dari arah sungai. Warga percaya bahwa arwah para serdadu Inggris masih menjaga tempat itu—mungkin karena mereka belum selesai menjalankan tugasnya.
Potensi Wisata dan Warisan Budaya
Sayangnya, hingga hari ini, Benteng Anna belum dikelola secara serius sebagai situs wisata sejarah atau cagar budaya. Pemerintah Kabupaten Mukomuko memang sempat memasang pagar besi dan melakukan pemugaran kecil, namun belum ada pengelolaan terpadu yang dapat mengangkat nilai sejarah dan pariwisata benteng ini.
Padahal, jika dikemas dengan baik, Benteng Anna bisa menjadi destinasi wisata edukasi sejarah, sekaligus daya tarik budaya dan spiritual. Wisata sejarah tak melulu harus megah — justru kadang, tempat yang penuh misteri memiliki daya pikat yang jauh lebih kuat.
Menjaga Jejak, Merawat Ingatan
Benteng Anna bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi dari sebuah era kolonial, jejak dari dinamika ekonomi-politik dunia masa lampau yang sampai ke pelosok barat Sumatra. Di sisi lain, ia juga menjadi cermin dari kearifan lokal dan kekuatan cerita rakyat dalam membentuk identitas dan ikatan masyarakat dengan sejarahnya.
Apakah lorong itu benar-benar ada? Apakah suara tentara Inggris itu nyata? Tak ada yang tahu pasti. Tapi satu hal yang jelas: kisah tentang Benteng Anna tak akan pernah benar-benar hilang, selama masih ada yang mau mendengarkan dan menceritakannya kembali.
📍 Fakta Singkat Benteng Anna:
|
Fakta |
Keterangan |
|
Tahun Pembangunan |
Sekitar 1798 |
|
Pembangun |
East India Company (EIC), Inggris |
|
Lokasi |
Koto Jaya, Kota Mukomuko, Bengkulu |
|
Fungsi Awal |
Pos militer, dagang, dan pertahanan pantai barat Sumatra |
|
Kondisi Saat Ini |
Dua meriam, puing tembok bata, dan lorong batu pendek |
|
Mitos Populer |
Lorong bawah tanah ke Benteng Marlborough, suara gaib |
|
Upaya Pelestarian |
Pagar besi dan pemugaran dudukan meriam oleh Pemkab |
oleh : AAS / REDAKSI
📌 Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan wawancara warga, arsip sejarah lokal, serta pengamatan lapangan yang dikumpulkan dari berbagai sumber.
